Pengakuan Tulus Seorang Hamba

Dulu Sewaktu Masih Kecil

Dulu sewaktu masih kecil, aku melihat orang-orang di tempat tinggalku (kampung halamanku), juga orang-orang dekatku seperti ayah, ibu,dan kakak-kakakku pergi ke mesjid ketika hari Jum’at dan juga pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Mereka shalat bersama-sama, berdiri bershaf di belakang seorang imam. Pada saat itu aku hanya tahu kalau orang-orang melakukan itu hanya sebagai kebiasaan atau tradisi yang dilakukan secara turun-temurun tanpa dasar dan tujuannya, juga sebab dan akibatnya. Hanya itu dan sebatas itulah pemahamanku pada saat itu tentang apa yang dilakukan oleh mereka. Juga tentang agama ini. Tidak ada, atau belum ada rasa ingin tahu atau sikap kritis untuk bertanya mengapa mereka melakukan hal itu dan apa tujuan mereka, siapa yang menyuruh melakukan hal itu. Karena tertarik melihat orang-orang pada rame ke mesjid untuk shalat taraweh, akupun ikut bersama mereka. Aku belum tahu apa yang aku lakukan dan apa tujuannya. Aku hanya ikut-ikutan berdiri, rukuk dan sujud bersama orang-orang itu melakukannya.

Setelah Beranjak Remaja Dan Dewasa

Setelah beranjak remaja, sedikit-demi sedikit aku bisa mengetahui apa yang dulu dilakukan oleh orang-orang. Pada skala kecil dan lingkungan terbatas, aku mulai bertanya kepada orang-orang tentang agama ini, tentang syahadat, shalat, zakat, puasa,dan haji. Juga tentang Allah, malaikat, kitab-kitab Allah, Rasul, hari akhir, serta qada dan qadar. Pada taraf itu aku sudah mengenal secara global tentang semua hal di atas. Bahkan, sudah menjadi sesuatu hafalan bagiku dan juga anak-anak seusiaku. Aku sudah punya sedikit pemahaman tentang agama ini juga tentang akidah, walau masih suka melalaikannya, aku sendiri tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah itu tandanya bahwa pemahamanku tentang agamaku masih kurang, masih belum komprehensif? Aku yakin memang demikianlah adanya. Tapi insya Allah, keyakinanku tentang kebenaran agama ini dan apalagi tentang Allah Subhaanahu wata’ala sudah sangat kuat, walaupun pemahamanku tentang detailnya menyangkut hukum dan ketentuan-ketentuan hukum syariatnya belum aku pahami keseluruhannya. Saat itu, usiaku sudah menginjak kepala dua alias 20 tahun. Itu menunjukkan bahwa aku sudah beranjak dewasa, bahkan sudah melewati masa atau usia aqil balik selama delapan tahun bila dihitung sejak usia 13 tahun, sebagai awal diperhitungakannya semua amal ibadah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di yaumil mahsyar nanti. Subahaanallah, Ya Allah, Ya Ghafar, astagfirullah al Adhim, ampuni segala dosa yang telah hamba perbuat selama ini, sejak aqil balik hingga saat ini ya Allah, aamiin.

Sejak Aku Mengenal-MU

Meskipun untuk mengenal-Mu bukanlah hal yang serta merta, karena tentu perlu proses belajar dan pengalaman spiritual learning yang panjang, tetapi keyakinan dan aqidahku tentang kebenaran ajaran-Mu yang dibawa oleh Rasul-Mu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, sudah aku dapatkan dan telah menghunjam jauh kedalam qalbu dan jiwa ini Ya Allah. Oleh karena itu, bimbingnlah hamba agar tetap istiqomah dan tidak menyekutukan-Mu dengan yang lain. Hanya Engkau sajalah yang aku sembah, dan hanya kepada Engkau sajalah aku memohon pertolongan. Tunjukilah aku jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, dan bukan jalan orang-orang yang sesat. aamiin. Syukur alhamdulillah, aku terlahir sebagai muslim dan Engkau takdirkan hamba untuk bisa lebih mengenal-Mu lagi dan juga Engkau karuniakan hamba kesehatan yang cukup baik dan umur yang cukup panjang ini.  Engkau masih mengijinkan hamba untuk menikmati karunia rahmat-Mu di dunia dan melaksanakan amanah dan perintah-perintah-Mu.

Harapanku Pada-MU

Ini harapanku, dan pasti menjadi harapan dan dambaan semua orang. Meskipun aku dan juga orang-orang yang mengharapkannya tidak selalu mengusahakannya. Harapanku, adalah Khusnul Khotimah. Akhir yang baik tatkala Engkau datang \menjemputku nanti. Ini hanya terjadi jika Engkau menghendaki dan hanya atas ridho-Mu ya Allah. Karena itu, dengan segala rasa bersalah, rasa malu, dan rasa rendah diri serta rasa berdosa, hamba datang untuk berdoa memohon kehadirat-Mu ya Allah agar hamba dan juga orang-orang yang mendambakannya, Engkau karuniakan kami semua Khusnul Khotimah, aamiin.

Tulisan ini saya posting dalam judul “Pengakuan Tulus Seorang Hamba” hanya sebagai cetusan hati seorang hamba, semoga bermanfaat@webarsyam.

Iklan