Kita Tak Pernah Tahu Kapan Ajal Kita Datang

Yang akan saya uraikan dalam postinganku kali ini adalah soal kematian, tepatnya adalah kisah-kisah kematian. Saya angkat masalah kematian semata-mata untuk mengingatkan kita bahwa dia (kematian) itu pasti akan datang menemui kita…jangan serem dulu aahhh. Ikuti kisahnya berikut ini :

Sebuah Surat kabar Al-Qasham yang telah lama terbit di Saudi–menyebutkan bahwa seorang pemuda di Damaskus telah bersiap-siap untuk melakukan sebuah perjalanan. Dia memberi tahu ibunya bahwa waktu take off pesawat adalah jam sekian. Ibunya diminta untuk membangunkannya jika telah dekat waktunya. Pemuda itu pun tidur. Sementara itu si ibu mengikuti berita cuaca dari radio yang menjelaskan bahwa angin bertiup kencang dan langit sedang mendung. Sang ibu merasa sayang pada anak satu-satunya itu.

Karena itu, dia tidak membangunkan anaknya dengan harapan dia tidak jadi pergi pada hari itu, lantaran cuaca sangat tidak mendukung. Dia takut akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Ketika dia sudah yakin bahwa waktu perjalanan telah lewat, dan pesawat telah tinggal landas, ibu tersebut lalu membangunkan anaknya. Apa yang terjadi…ternyata si anak telah meninggal dunia di tempat tidurnya. Sahabat, demikianlah kematian atau ajal itu datang, tidak pernah kita tahu sebelumnya, karena itu merupakan rahasia Allah seperti dalam firman-Nya berikut ini, “Katakanlah,’Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS.Al-Jumu’ah :8)

Karena itu tak usah takut dan tak perlu kita lari dari kematian, yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya, perbanyak amal kebaikan, ibadah dan berusaha maksimal melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Yang lari dari kematian, akan menemukan kematian itu sendiri. Jika ajal manusia telah tiba, apa-pun bisa membunuhnya, seperti yang terjadi pada kisah berikut ini.

Syeikh Ali ath-Thanthawi dalam sebuah siaran radio dan televisinya mengabarkan bahwa di negeri Syam ada seorang laki-laki yang memiliki sebuah mobil truk Lorie. Ketika mobil itu dijalankan, tanpa diktehuinya di atas badan bobil itu ada orang. Mobil itu mengangkut peti yang sudah siap untuk menguburkan mayat. Sedangkan di dalam peti itu terdapat kain yang bisa digunakan sewaktu-waktu dibutuhkan. Tiba-tiba hujan turun dan air mengalir deras. Orang itupun bangun dan masuk dalam peti agar tidak kena hujan dan membungkuskan dirinya dengan kain yang ada dalam peti. Kemudian di tengah jalan ada seorang yang lain naik menumpang ke bak mobil itu di samping keranda. Dia tidak tahu, bahwa di dalam peti itu ada orang. Hujan belum juga berhenti. Orang yang kedua ini mengira bahwa dirinya hanya sendirian di dalam bak mobil itu. Tiba-tiba dari dalam peti ada tangan terjulur keluar (untuk memastikan apakah di luar, hujan sudah berhenti atau belum). Ketika itu terjulur, kain yang membungkusnya juga ikut terjulur keluar. Si penumpang itu kaget dan takut bukan kepalang. Dia mengira bahwa mayat yang ada dalam peti itu hidup kembali. Karena saking takutnya, dia terjungkal dari mobil dengan posisi kepala di bawah. Dan, mati.

Sahabat, demikianlah Allah menentukan kematian orang itu dengan cara seperti itu.

Segala sesuatu sesuai dengan qadha’ dan qadar,
dan kematian adalah sebaik-baik pelajaran.

Yang selalu harus diingat oleh seorang hamba adalah bahwa dia sedang membawa kematian, dan bahwa dia sedang menunggu kematian itu entah akan datang pagi atau sore. Sungguh indah ungkapan Ali bin Abi Thalib,

“Sesungguhnya kematian terus mendekati kita, dan dunia terus meninggalkan kita. maka jadilah kalian anak-anak akhirat, dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya, hari ini adalah beramal dan tidak hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi beramal.”

Ungkapan Ali ini mengingatkan kita, bahwa manusia harus selalu siap siaga, memperbaiki keadaannya, memperbaharui taubatnya, dan mengetahui bahwa dia sedang berhubungan dengan Rabb Yang Maha Mulia, Kuat, Agung dan Baik.

Kematian itu tidak pernah meminta izin kepada siapa pun, tidak pernah pilih kasih kepada siapa saja, dan tidak pernah merajuk. Kematian itu tidak memberikan aba-aba terlebih dahulu. seperti dalam firman-Nya berikut ini,

“Dan, tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengethui dengan pasti di bumi mana dia akan mati”. (QS.Luqman:34)

Iklan