A Glance Looking Backward (3)

Sesudah Kesedihan Ada Kabahagiaan

Rupanya, istriku dan kakaknya yang berada di ruang tunggu merasa aneh dengan gelagat yang terjadi. Mereka merasa ada yang tak beres, mengapa dokter harus berbicara berdua saja dengan suamiku, tanpa boleh didengar oleh pasien (anakku).”Ini pasti ada yang dirahasiakan”. Itu perasaan mereka pada waktu itu. Hal ini adalah wajar, karena sebelumnya mereka memang tak menyangka kalau penyakit yang diderita anak kami (Amy) tidaklah atau belumlah separah itu. Sayapun sebenarnya punya anggapan dan perasaan seperti itu sebelum diberitahu oleh dokter. Namun, karena saya sudah terlebih dahulu diberitahu oleh Amy ketika menunggu panggilan dokter, jadi saya sudah punya sedikit kesiapan mental untuk menghadapi apapun yang terjadi. Ketika saya selesai berbicara dengan dokter,  saya pun keluar untuk menemui mereka di ruang tunggu. Saat itu saya bingung, bagaimana saya harus menjelaskan hal ini kepada mereka, agar mereka tidak sampai sok dan juga tidak sampai didengar oleh anak kami Amy. Pasti mereka akan sok jika saya langsung memberitahukan status penyakit anakku.

Karena itu, saya coba “bersandiwara” mengajak istriku ke kamar kecil sebentar, sambil ke apotik untuk membayar obat agar masalah ini tidak sampai diketahui oleh anak kami dan di sana saya bisa menjelaskan masalah ini kepada istriku. Di situlah saya memberitahukan hal itu kepada istriku, bahwa penyakit anak kami sudah sangat parah dan sudah terlambat untuk bisa disembuhkan. Mendengar itu, istriku langsung berurai air matanya dan kami berdua saling berpelukan dalam kesedihan yang amat sangat. Orang-orang yang melihat kami tidak ada yang bertanya, mungkin karena mereka tidak mengenal kami.  Karena tidak enak dengan banyak orang di tempat itu (toilet), kami pun kembali ke ruang tunggu sambil mengusap dan membersihkan bekas linangan air mata di wajah kami berdua. Setelah ngobrol sebentar dengan anak kami dan tantenya, lalu kamipun pulang. Dalam perjalanan pulang ke kos kakaknya tempat kami menginap selama di Mataram, kami mampir dulu di agen bis “Dunia Mas” untuk memesan tiket pulang ke Dompu lusa paginya.

Waktu itu kami menginap lagi dua malam di Mataram, berhubung besok paginya kami harus menghadiri upacara wisuda kakaknya (anak saya yang pertama). Tentunya, dalam acara semacam itu, seharusnya kami semua merasa bahagia dan gembira, apalagi anak pertama kami yang diwisuda pada acara itu, lulus dengan predikat Cumlaude. Sesuatu yang tentunya, layak dibanggakan dan juga membanggakan kami kedua orang tuanya. Akan tetapi apa yang terjadi? Suasana bahagia dan gembira yang dirasakan orang pada saat itu sama sekali tidak bisa kami rasakan. Yang kami rasakan dan pikirkan hanyalah nasib si bungsu yang telah divonis oleh dokter. Yang umurnya hanya tinggal tiga bulan lagi hidup bersama dengan kami. Meski demikian, kami dan terutama saya masih punya keyakinan, bahwa sesungguhnya di penghujung kesedihan itu akan selalu ada kebahagiaan. Karena sesuai dengan janji Allah yang saya yakini, bahwa kita tidak boleh putus asa dari rahmat Allah. Kita harus terus berusaha apa pun dan bagaimanapun kondisinya. Itulah kurang lebihnya, yang saya rasakan dan yakini dalam merawat anak kami sepulang dari Mataram. Kurang lebih satu setengah bulan setelah kami kembali dari Rumah Sakit Bio Medika Mataram dan merawatnya, si bungsu anak kami tercinta meninggal dunia. Hal ini berarti lebih cepat dari perkiraan dokter pada waktu itu, yaitu kurang lebih 3 bulan menurut vonis dokter. Meskipun kami sekeluarga telah menemani dan merawatnya dengan segala usaha pengobatan alternatif yang ada di daerah kami, namun tetaplah Allah Swt yang menentukan. Pada hari itu, almarhum terakhir memberi tahu ibunya bahwa ia pengen istirahat dulu (tidur). Ibunya yang selalu setia menemani disampingnya mengiayakan. Iapun tidur, dan mamanya seperti biasa selalu standby di samping anaknya. Saya sendiri, pada hari itu kebetulan menyempatkan diri ke kantor karena sudah cukup lama tidak masuk kantor secara rutin selama menjaga dan merawat dia di rumah, dan pihak kantorpun memberikan dispensasi untuk itu. Pada waktu itu, sekitar jam 11.00 siang, saya pamit pulang sama teman-teman di kantor, karena ada perasaan tidak nyaman dalam hati, seperti ada yang “menyuruh” untuk segera pulang. Setiba di rumah, saya langsung ke kamar untuk mengecek keadaan, ternyata benar ia sedang tidur. Mamanya bilang, bahwa ia minta diri untuk istirahat tidur. Mendengar itu sayapun ke belakang dan berwudhu’ untuk shalat sunnat dhuha. Selesai shalat sayapun langsung kembali melihat keadaannya. Apa yang terjadi, ternyata anak kami dalam sakratul maut. Dan saya pun segera membimbing ruhnya dengan kalimat Laa ilaaha illallaah, dan akhirnya iapun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Innaa lillaahi wa innaa ilaihiraaji’uun. Ia telah berpulang ke rahmatullah dengan damai. Suara tangisan dari semua anggota keuarga-pun segera bergema mengantarkan kepergian anak kami untuk selamanya.

Dia telah pergi meninggalkan kami. Kami semua dalam keadaan duka dan kesedihan yang amat dalam. Kami sekeluarga semuanya sangat berduka atas kehilangan ini. Namun yang paling terpukul adalah istriku. Sementara saya sendiri tidak bisa menangis secara terbuka seperti dia. Hanya bisa menangis dalam hati dan itulah yang membuat saya sedikit kurus pada saat itu. Bagi istri, peristiwa ini betul-betul sangat membuatnya berduka hingga nyaris lupa diri. Tiada hari tanpa menangis, tanpa berurai air mata, bahkan meskipun peristiwa itu sudah berlangsung dalam kurun waktu bulanan hingga tahunan, dia belum bisa segera rikaveri.

Hari berganti minggu dan selanjutnya berganti bulan, sang waktu terus bergulir. Hingga tiba saatnya, kami sekeluarga diberi beberapa kegembiraan (hiburan) oleh Allah Swt. Di mana putri kami yang nomor 2 lulus dari SMA dan selanjutnya dalam proses mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, ia pun lulus di IKIP Mataram. Kemudian hiburan yang cukup besar lagi adalah bahwa putri kami yang nomor 1 yang baru saja diwisuda beberapa bulan sebelumnya dan mendapat predikat cumlaude juga dalam proses mengikuti seleksi penerimaan PNS lulus test CPNS sebagai tenaga pendidikan Kimia. Itulah beberapa kejadian yang menurut saya merupakan hikmah di balik musibah yang menimpa keluarga saya. Subhaanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallaahuakbar. Dan kutulis Puisi ini untuk mengenangnya—selesai.

Iklan