Berbisnis Yang Islami: Untung Dunia, Untung Akhirat

Usia beliau baru menginjak 12 tahun, saat sang paman, Abu Thalib bin Abdul Muthalib mengajaknya melakukan perjalanan bersama sekelompok kaum Quraisy dalam ekspedisi dagang ke Syria. Awalnya, Abu Tahlib tak bermaksud membawa keponakanya yang masih kanak-kanak itu. Namun ketika kafilah dagang itu hendak berangkat, Nabi Muhammad saw yang waktu itu masih seorang pemuda kecil, merangkul pamannya dan memperlihatkan kasih sayangnya yang sangat besar sehingga Abu Thalib merasa iba dan berkata, “Aku akan mebawamu bersamaku, dan kami tidak akan pernah berpisah.”

Sejarah mencatat, perjalanan ke Syria ini merupakan perjalanan dagang pertama yang dilakukan Nabi Muhammad saw, meskipun pada ekspedisi dagang itu beliau hanya berperan sebagai penjaga barang-barang. Perjalanan ini pulalah yang mempertemukan Nabi Muhammad saw dengan Pendeta Bahira, seorang biarawan yang melihat tanda-tanda kenabian dalam diri anak laki-laki itu serta memperingatkan Abu Thalib agar segera kembali ke negerinya serta menjaga sang keponakan dari orang-orang Yahudi.

Sebagaimana mayoritas kaum Quraisy lainnya, Nabi Muhammad saw telah merintis karirnya sebagai pedagang pada tahap yang sangat awal dalam kehidupannya serta menekuni profesi ini hingga beranjak dewasa serta menerima tugas kenabian. KKehidupan perniagaan memang merupakan mata pencaharian utama bagi penduduk Makkah, sebuah wilayah padang pasir yang kering, penuh bebatuan dan pegunungan tandus, sehingga nyaris tidak ada hasil pertanian yang dapat dipetik.

Berbagai ekspedisi dagang yang sempat dijalaninya membawa nabi Muhammad saw mengunjungi berbagai daerah di semenanjung Arab, dan negeri-negeri perbatasan Yaman, Bahrain, Irak dan Syria. Sejak awal meniti mkarir di bidang perdagangan hingga mencapai kejayaan di usia 40-an, Nabi telah meletakkan dasar-dasar etika dan prinsip bisnis yang mendahului jamannya, malah tetap relevan untuk diterapkan hingga kini.

Prinsip bisnis seperti efisiensi, persaingan sehat, kredibilitas, memelihara relasi layanan yang manusiawi, dan lain-lain yang kesemuanya telah dicontohkan Nabi sejak sebelum menjadi Rasul, dan kemudian dipertegas legitimasinya dalam Al Qur’an dan Hadits.

Abdullah bin Abi Hamza menceritakan bahwa ia pernah melakukan suatu transaksi dengan Nabi Muhammad saw sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Saat itu Abdullah bin Hamza tengah berunding namun sebelum menyelesaikan perinciannya, tiba-tiba ia terpaksa berangkat untuk suatu pekerjaan yang penting sambil menjanjikan akan segera kembali serta menetapkan batas waktunya.

Tetapi Abdullah bin Hamza lupa, dan ia teringat janjinya tiga hari kemudian. Ia pun lalu bergegas ke tempat yang sama, dan meneumkan Muhammad masih berada di sana menatikannya. Beliau tidak mengatakan sesuatu selain bahwa ia telah menunggu di sana selama tiga hari.

Sebagai pedagang, Nabi Muhammad saw sering melakukan perjalanan keliling dengan rajin dan penuh dedikasi pada usianya. Kecerdasan dan kejujurannya (Siddiq), serta kesetiaannya memegang janji (al amin) menjadi dasar etika wirausaha, telah membuka peluang tersedianya pinjaman komersial (Commercial Loan) di kota Makkah.

Pinjaman komersial itu yang membawa Nabi Muhammad saw menjalin kemitraan bbisnis dengan para pemilik modal, kebanyakan para janda kaya dan harta anak-anak yatim yang tidak sanggup menjalankan bisnis sendiri. Di antara janda kaya yang mempercayakan dananya pada Nabi Muhammad saw adalah Khadijah yang menawarkan suatu kemitraan berdasarkan sistem bagi hasil.

Diriwayatkan oleh Allamah Dzahabi dari, “Saya telah melakukan dua kali perjalanan ndagang untuk Khadijah dan mendapat upah dua ekor unta betina dewasa.” Selama bermitra dengan Khadijah, Muhammad yang waktu itu belum menjadi nabi pernah menjual barang-barang ke Busra dan memperoleh keuntungan dua kali lipat dibanding pedagang lain.

Karena itu, sewaktu kembali ke Makkah, Khadijah memberikan bagian keuntungan yang lebih besar dari pada yang telah berdua sepakati. Di lain kesempatan, Khadija juga kerap memberikan upah lebih besar dari yang diberikan kepada orang Quraisy lainnya berkat kejujuran dan kecermatan Nabi Muhammad saw.

Meski sukses dalam perniagaan, namun Nabi Muhammad saw tidak diutus hanya sebagai  pedagang, sebagaimana beliau berkata dalam haditsnya, “Aku tidaklah diberi wahyu untuk menumpuk kekayaan atau untuk menjadi salah seorang dari para pedagang.” Pada masa kenabian, Rasulullah malah lebih banyak melakukan pembelian dan hanya sedikit melakukan transaksi penjualan. Beberapa riwayat menyebutkan, sebagian besar pembelian itu, bukan untuk dijual kembali melainkan untuk disedekahkan.

Surut dari hiruk pikuk bisnis tidak mengubah pandangan Nabi Muhammad saw terhadap keutamaan melakukan perdagangan. Beliau berulang kali mengungkapkan keberkahan perdagangan. Abu Sa’id meriwayatkan, Rasululah saw berkata, “Saudagar yang jujur dan dapat dipercaya akan dimasukkan ke dalam golongan para Nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada.” (Tirmidzi) Dalam hadits lain yang diriwayatkan Al Bazzar dan Ahmad disebutkan, “Mata pencaharian yang paling afdhol adalah berjualan dengan penuh kebajikan dan dari hasil keterampilan tangan.”

Bahkan, pada masa awal kejayaan Islam, selain politik dan militer, salah satu bidang yang berkembang sangat pesat adalah ekonomi. Perkembangan ekonomi memainkan peranan penting dalam menopang peradaban Islam, dan perdagangan menjadi soko guru perekonomian waktu itu.

Ketika para pemeluk Islam berhijrah dari Mekkah ke madinah, mereka dinasehati Nabi agar berdagang untuk penghidupan sehingga mereka menjadi sejahtera. Banyak contoh yang membuktikan bahwa setiap muhajir yang shalih dan taat beragama telah melakukan berbagai jenis perdagangan untuk memenuhi nafkah sehari-hari.

Abu Bakar, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin memiliki usaha dagang bahan pakaian. Umar bin Khattab pernah memperdagangkan jagung. Usman bin Affan memiliki usaha dagang pakaian. Juga Abdurrahman bin Auf, pedagang sukses yang berperan besar dalam membantu menyediakan kendaraan dan perbekalan bagi tentara Islam dalan berbagai peperangan.

Nabi, dengan berbagai kebijakannya, sangat menkenkan perdagangan dan perniagaan. Belau mendorong berkembangnya perdagangan dengan menghapuskan bea masuk antar provinsi yang berada di daerah kekuasaan dan terkait dalam perjanjian yang ditandatangani bersama suku-suku yang tunduk pada kekuasaannya. Semua itu menjadi bukti, Nabi Muhammad saw yang di masa mudanya telah sukses menjadi pedagang dan manager perusahaan dagang, sesudah diangkat menjadi Rasul dan hijrah ke Madinah, mampu berperan sebagai teknokrat yang membangun perekonomian untuk mencapai kemakmuran.

Sejarah bangsa-bangsa di dunia memperlihatkan, bagaimana dengan berdagang dan bernoaga, orang bisa menjadi kaya, dan bangsa-bangsa mendapatkan wilayah yang luas di seluruh dunia. Dalam hadits lain Nabi Muhammad saw berkata, “Berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan di antaranya dihasilkan dari berdagang.”

Perniagaan selain menjadi mata pencaharian yang penuh keberkahan, juga berperan dalam memenuhi hajat hidup masyarakat. Ketika seorang pedangang mengangkut barang dari satu negeri ke negeri yang lain, dia bukan sekedar mendapat laba dari hasil penjualannya, tetapi sekaligus membantu masyarakat setempat untuk memperoleh barang-barang kep-erluannya yang sebelumnya kurang atau bahkan tidak tersedia di tempat itu.

Lebih dari, tersebarnya agama Islam ke berbagai wilayah lain juga memakai “kendaraan” perdagangan. Para pedagang Muslimah yang berperan besar dalam penyebaran agama Islam di Timur Jauh, Asia Srlatan, dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Mereka berdagang sambil menyebarkan agama Islam berpedoman hadits nabi balighu anni walau ayah,sampaikan dari saya (kepada orang lain) walau satu ayat.

Bermalas-malasan dan enggan bekerja dengan alasan tawakal sangat dicela dalam Islam. Sebab Allah swt telah melapangkan bumi dan menyediakan fasilitas di malam raya ini agar manusia mau dan mampu berusaha dan mendapatkan kemudahan dalam mencari rezeki, sesuai dengan bakat dan kesanggupan masing-masing. Perdagangan menjadi salah satu profesi yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

Mencari nafkah melalui jual beli bukan saja halal melainkan juga mulia asala dilakukan dengan jujur dan benar berdasarkan prinsip-prinsip yang digariskan Islam.Karenanya, berdagang selain menjadi sarana aktualisasi diri dan kemampuan, juga bisa menjadi aktivitas yang bernilai ibadah, sehingga seorang pedagang Muslim selalu berusaha memperoleh keuntungan ganda, bukan hanya materi utnuk kehidupan dunia namun juga perbekalan untuk kehidupan abadi di akhirat nanti.@

Iklan