Naluri Keulungan

Naluri Keulungan, itulah sebuah judul artikel pendek yang merupakan buah pikiran dari Bapak M Anis Matta, yang menurut saya cukup menarik untuk dibaca atau diketahui apa yang menjadi alur pemikiran penulis. Selengkapnya ikutilah buah pikiran beliau berikut ini.

Semangat penanggungan adalah akar moral bagi cinta sejati. Tapi kita hanya bisa mengukir karya cinta yang abadi kalau kita mengetahui sumber energi dari tindakan memberi yang tak boleh berhenti. Dari sini kita mendapatkan stamina untuk memberi secara terus-menerus, relatif tanpa henti, seperti pada sebuah pendakian, kita akan terus menerus kekurangan oksigen pada setiap  satu ketinggian yang kita capai. Itu sebabnya tidak banyak orang yang bisa menancapkan benderanya di puncak gunung.

Maka semangat penanggungan saja tidak cukup. KIta membutuhkan kekuatan emosi yang lebih dahsyat seperti angin laut yang menghadirkan gelombang. Kita membutuhkan tekad untuk menuntaskan misi pendakian, menancapkan bendera cinta di puncak gunung. Itulah naluri keulungan. Kita musti punya itu. Itu adalah insting yang bekerja secara natural mengatur mindset kita untuk selalu berani menaklukkan rintangan, selalu mau melakukan semua yang mungkin secara maksimal, selalu penuh kemurahan memberi yang terbaik.

Jika dorongan naluri untuk menjadi ulung itu bertemu dengan semangat penanggungan, maka cinta menemukan sumber energinya yang teramat dahsyat. Naluri keulungan membebaskan kita dari kebiasaan menipu diri sendiri atau berdamai dengan godaan kelemahan pada watak kita; bahwa apa yang penting adalah menyelesaikan tanggung jawab, habis itu semua selesai! Tidak! Pecinta yang datang membawa sekuntum bunga pada sang kekasih dengan semangat keulungan tidak berhenti pada tanggung jawab yang sudah selesai. Dia berjalan terus. Dia terus-menerus mengejar kesempurnaan yang mengantarnya menuju puncak.

Tidak akan pernah ada karya besar yang kita tuntaskan dalam kehidupan kita kecuali apabila kita memiliki naluri keulungan. Sedang cinta adalah tindakan. Sedang cinta adalah karya. Sedang cinta adalah tekad kebajikan yang mengejawantah di sepanjang jalan kehidupan sang pencinta: memberi dan terus memberi. Menjadi ulung adalah tekad yang tak terlawan oleh rintangan dan membadai jadi semangat yang solid untuk satu cita-cita: menaklukkan semua yang tampak tidak mungkin.

Itu sebabnya cinta menjadi sesuatu yang teramat agung. Itu sebabnya cinta mengubah orang lemah menjadi kuat. Itu sebabnya kelembutan dan kehalusan jiwa para pencinta adalah manifestasi dari kekuatan jiwanya. Tapi ini semua membutuhkan latihan yang panjang. Naluri keulungan itu harus kita latih dan asah agar ia menajam seperti tajamnya mata harimau saat hendak menerkam sang kijang.

Itu karena cinta adalah karya kemanusiaan. Dan tidak ada kekuatan materi yang mampu mendorong kita melakukan semua kebajikan yang harus dilakukan sang pencinta. Maka naluri keulungan harus diasah agar kebajikan menemukan tumpangan besar dalam kendaraan jiwa kita. Lalu mengejawantah.@

 

Iklan