Teguran Bagi Sang Musafir

Kita semua adalah musafir. Sekarang kita sedang berada di sini, dalam gerbong kereta waktu yang membawa kita melaju dalam perjalanan hidup. Adapun stasiun tempat kelak kereta waktu berhenti adalah liang kubur. Maka, ketika kereta waktumu berhenti, lalu engkau keluar dari gerbong, engkau hanyalah berpindah ke gerbong lain dari kereta waktu yang akan memngantarmu ke padang pertanggungjawaban.

Dengarlah Nabimu yang telah membacakan firman Tuhanmu, wahai sang musafir, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan jangalah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmaan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 77)

Sesungguhnya, yang dapat membuatmu lurus dalam hidup adalah jika engkau senantiasa mengingat perhentian terakhir dari perjalanan hidup ini. Ketika kesadaran itu lepas dari ingatan batinmu, niscaya engkau akan menemukan bahwa semua dorongan liar ber-kecambah dalam jiwamu, merasuk dalam pikiranmu, dan itulah saat di mana musuh abadi yang mengalir dalam darahmu-setan-menjadi masinis yang membawa lokomotif kereta kehidupanmu.

Teruslah berlari, dan…,jangan! jangan pernah menengok ke belakang, walaupun hanya sekejap, walaupun kakimu sakit tertusuk duri. Dengarlah, sekali lagi, wahai musafir, Nabimu telah membacakan firman Tuhanmu, “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya, aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (Adz-Dzariyat:50)

Ketika Nabi yang membawa risalah samawi terakhir ini memasuki tahun keempat dari usia kenabiannya, beliau menemukan bahwa ingatan akan penghentian terakhir itu belum merasuk dengan kuat ke dalam benak para sahabatnya. Mereka masih tampak lekat dengan bumi, dan senang berleha-leha d dalamnya. Tiba-tiba saja, teguran langit turun ke bumi, menghentak kesadaran mereka, membelalakkan mata mereka, dan menyatakan bahwa tidak begitu seharusnya mereka menjalani hidup. Oh, hidup bukanlah permainan, wahai musafir! Dan Nabipun membacakab teguran langit itu kepada para sahabanya.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid:16)

Tidak! Teguran itu bukanlah kemarahan dari langit. Tetapi, Allah hanya ingin agar mereka menjalani hidup dengan cara yang lain. Allah hanya ingin agar kaki mereka berjalan di bumi, namun hati mereka senantiasa terpaut pada langit. Maka, turunlah dari langit kisah ini. Kisah yang akan menggoda mereka menjadi sesuatu yang lain. “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.”An-Nur: 36-37) Anda juga dapat mengikuti artikel terkait Kematian itu sungguh dekat

Penulis : M Anis Matta

Iklan