Sungguh “Mahal” Harga Sebuah Pelajaran Itu.

Sekitar tiga tahun yang lalu, setelah lulus SMU dan karena keinginannya untuk segera mandiri, ia berusaha mencari pekerjaan. Ia berdo’a kepada Allah agar jalan mencari pekerjaan dimudahkan. Tidak tangung-tangung, berpuluh-puluh lamaran ia kirim. Tapi ternyata, tidak satupun mendapat respon. Dia mencoba bersabar dan berpikir positif, tentu masih ada kesempatan lain.

Tak lama kemudian, ia mendapat kabar gembira dari orang tua. Mereka mendapat informasi dari bibinya bahwa ada lowongan di sebuah perusahaan BUMN. Ia senang sekali. Karena saat itu ia masih tinggal terpisah dengan orang tua, maka iapun segera bergegas merapihkan pakaian dan pulang.

Sesampai di rumah, ia dijelaskan panjang lebar, bahwa untuk mendapatkan pekerjaan ini, mereka harus mengeluarkan uang sogokan 17 juta rupiah. Kontan saja ia kaget. Sedangkan orang tua ternyata tidak keberatan, asalkan ia mau. Tanpa pikir panjang, ia akhirnya mengiyakan saja. Ia pun mendaftarkan diri pada perusahaan BUMN itu.

Sesuai perjanjian, jika SK sudah keluar ia harus menyerahkan uang sogokan, sebagai ganti telah menjadi pegawai negeri. Tapi setelah sebilan bulan menunggu, yang terjadi ia hanya dilempar sana lempar sini untuk mengambil surat tugas. Tapi sampai di sana ia mendapat berita diundur dengan berbagai alasan. Ia amat kesal. Timbul dugaan, bahwa ia telah ditipu oleh orang yang “membawa” dia. Masalahnya sekarang, uang itu sudah diserahkan. Akhirnya ia bersama Bapaknya nekad pergi ke kantor tempat nantinya ia dijanjikan akan bekerja. Mereka menanyakan kejelasan surat penugasan.

Dari sanalah mereka tahu, bahwa ternyata mereka memang telah ditipu.Hatinya sangat kacau. Ia tidak bisa berpikir apa-apa lagi, badan terkulai lemas, ingin menangis dan marah. Saya minta maaf pada orang tua, yang juga tidak menduga semua akan jadi berantakan. Mereka sangat menyesal, karena tindakan yang mereka ambil, yakni mau saja memberikan uang sogokan, memang keliru. Sekarang ia berpikir kembali, andaikata tidak ditipu dan benar-benar menjadi pegawai BUMN, bagaimana status uang atau gaji yang akan ia terima nantinya. Sungguh “mahal” biaya sebuah pelajaran itu, di mana meskipun uang melayang, setiadaknya itu membuat mereka tersadar. Ia mulai menata kembali semuanya dari awal. Ia pun bersedia kuliah. Di keheningan malam ia bermunajat kepada Allah, ia ikhlas menerima apa yang terjadi. Ia juga mohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang telah dilakukan. Ia berdo’a semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik kelak.

Beberapa waktu setelah itu, ia mencoba ikut pendaftaran tes CPNS. Maasya Allah, ternyata ia diterima. Sujud syukur ia panjatkan kepada Allah. Inilah jalan yang jauh lebih baik, jalan yang benar dan diridhoi-Nya. Alhamdulillah.

Kisah di atas adalah kisah nyata, tapi siapa  si empunya kisah ini, tidak perlu saya ungkapkan di sini. Kisah atau pengalaman semacam ini bisa juga terjadi pada siapa saja, termasuk kepada kita, keluarga, sahabat, jiran dan tetangga kita (semoga tidak terjadi) tentunya.  Oleh karena itu, mari kita ambil hikmah/pelajaran dari kisah ini dan senantiasa waspada terhadap berbagai trik-trik jahat para penipu durjana itu.@

https://twitter.com/MTLovenHoney/status/471642886488875009

Iklan