Zuhud Tak Merusak Citra

Secara simpel zuhud adalah mengendalikan diri dari cinta dunia yang berlebihan. Cerminan keimanan dan ketakwaan orang-orang shaleh zaman dahulu adalah dengan menunjukkan keengganan mereka untuk mengumpulkan harta benda secara berlebihan. Sedangkan berlebihan menurut ukuran mereka saat itu adalah; jika masih ada harta benda yang cukup untuk keperluan esok hari, itu sudah dianggap sebagai suatu kelebihan. Maka segera saja mereka sedekahkannya kepada orang lain. Sedangkan untuk dirinya dan urusan esok hari, benar-benar telah diserahkannya kepada Allah, Dzat yang mengatur hidup dan matinya manusia. Orang-orang shaleh yang memilih kehidupan zuhud, mereka sama sekali tidak merasa khawatir akan citra dirinya menjadi orang miskin di dunia. Bagi mereka, harta dunia hanyalah titipan Allah yang tak pantas untuk diklaim apalagi dikuasai sebagai milik pribadi.

Beda dengan orang-orang “yang mengaku” sebagai orang-orang shaleh, ulama, ustadz atau Aa’ yang hidup di zaman sekarang. Tak terlihat pada mereka wajah-wajah yang tak menyukai harta. Bagi mereka, harta bukan sekedar sebagai sarana penunjang ibadah dan dakwah mereka, melainkan sudah menjadi suatu hajat hidup dan gaya hidup modernitas mereka. Kata mereka : “Ikhlas adalah urusan hati, sedangkan finansial adalah kebutuhan hidup yang tak bisa ditunda.” Mereka menjadikan akhirat adalah nomor selanjutnya. Rumah mereka mewah, Haji dapat dilakukannya setiap tahun dan umrah dijalaninya setiap waktu. Sedangkan tetangga mereka, tidak pernah berani membayangkan nikmatnya berhaji, karena biaya untuk pergi ke sana nol besar. Mungkin orang-orang miskin seperti mereka akan berjalan kaki menuju Makkah, jika keinginan untuk berhaji sudah tak terbendung lagi. Diceritakan oleh Ali bin Zaid : “Ada seorang yang bernama Husain, ia menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki sebanyak lima belas kali. Ia sama sekali tidak merasa sayang terhadap hartanya, ia mengeluarkan hartanya untuk kepentingan Allah sebanyak dua kali, dan membagikan hartanya di jalan Allah sebanyak tiga kali, sehingga ia benar-benar jatuh miskin dan tak punya apa-apa.” Maimun bin Mahran meriwayatkan : “Seorang anggota keluarga besar Bani Abdullah bin Umar meminta ia memberikan pakaian, karena kain miliknya sudah rusak.” Tamballah kainmu dan pakailah, “kata saya menyuruh orang itu. Ternyata orang itu tidak menghiraukan ucapanku tadi. Tetapi Abdullah bin Umar buru-buru berkata kepadanya : “Celaka kamu ! takutlah kepada Allah, janganlah kamu seperti orang-orang yang menjadikan rizki anugerah Allah pada perut dan punggung mereka!”. Sementara itu pada suatu hari Slman Al Farisi kelihatan sedang memakai jubah dari bulu. Lalu ada seseorang yang menghampirinya dan bertanya :”Mengapa anda tidak memakai jubah yang lebih halus dan lebih bagus dari jubah ini?” tanya orang itu kepada Salman Al Farisi. “Tidak, saya ini hanya seorang budak biasa. Karena itu pakaian yang saya pakai cukup pantas bagi seorang budak. Nanti kalau saya sudah dimerdekakan, saya akan memakai pakaian yang tidak rusak pada bagian-bagian  pinggirnya.” jawab Salman Al Farisi kepada orang itu sambil memegang jubahnya.

Sebenanya merekalah orang-orang yang pernah dikatakan oleh Al Hasan :” Sungguh, aku mendapati suatu kaum yang di rumah mereka tidak ada sepotong pakaian pun yang tersimpan. Tidak ada makanan yang bisa dibuat oleh keluarga mereka, dan mereka memang tidak memiliki apa-apa.

Salah satu dari mereka ialah Thalhah bin Ubaidillah. Ia menjual tanah miliknya kepada Utsman dengan harga tujuh ratus ribu dirham. Utsman sendiri yang mengantarkan uang itu kepada Thalhah. Dan di rumah Thalhah ini ia mendapati beberapa orang tamu yang bermalam.  Mereka adalah para Musafir yang kehabisan bekal di perjalalan. Uang sebanyak itu dipergunakan untuk menjamu mereka dan sisanya ia bagi-bagikan semua kepada mereka untuk bekal dalam perjalanan. Menjelang fajar ia tidak lagi memegang uang barang satu dirham pun.

Nyatalah memang, orang-orang yang tak bergeming dengan gemerlapnya harta benda, tidak membuat mereka jatuh harga dirinya. Justru di mata orang lain mereka tampak mulia, terhormat dan dikagumi. Merekalah sesungguhnya orang-orang yang teguh memegang hatinya dan tak silau oleh kemewahan harta benda. Sehingga harta benda yang ia miliki diberikannya kepada oarang-orang membutuhkan, sebagai sedekahnya dan simpanannya di akhirat kelak.

Sesungguhnya orang-orang seperti inilah yang kelak akan mendapatkan pandangan penuh rahman dan rahim dari Allah Subhanahu wata’ala..@

https://twitter.com/MTLovenHoney/status/471582129856315392

Iklan