Jangan Pernah Takut Keluar

Melangkahkan kaki meninggalkan rumah, meskipun tidak jauh dan hanya sebentar, rasanya sulit untuk sama sekali tidak bersentuhan dengan pertarungan dan masalah, sekecil apapun. Sebab di luar sana, lepas dari pekarangan rumah kita, telah menunggu banyak problem yang merintangi; berserakan di jalan-jalan, bertebaran di pasar-pasar, bertaburan di terminal-terminal, bertumpukan di kantor-kantor, di tempat-tempat kerja kita dan tempat-tempat umum lainnya. Sungguh sulit untuk menghindari dan untuk tidak terlibat dalam pertarunhgan-pertarungan yang terhidang setiap saat, dari sebab yang sangat sepele hingga yang cukup serius.

Tetapi begitulah tabiat di luar rumah. Khususnya di jalan-jalan raya. Ia memang tidak menyajikan rasa aman, ketenteraman, dan jaminan keselamatan, seperti yang kita rasakan ketika sedang berada di rumah. Ia sulit untuk menjadi sebentuk miniatur surga, seperti yang bisa kita ciptakan di rumah. Karena itu, jiwa yang sehat sulit menemukan ketenangannya di sana. Tetapi sebaliknya, orang yang merasa lebih tenang berada di luar sana, di keramaian jalan yang tak pernah berhenti menyajikan pertarungan, tentu ada sesuatu yang bermasalah dalam jiwa, rumah tangga, atau keluarga.

Namun apakah kita harus terus tinggal di rumah untuk menghindari semua pertarungan itu? Tidak. Sekali lagi tidak. Sebab berada di luar rumah adalah sebuah keniscayaan. Banyak hal yang tidak bisa kita dapatkan melainkan dengan harus melalui ayunan langkah kaki dengan iringan tangan. Allah swt telah menggariskan hal itu dalam firman-Nya, “Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS.Al Jumu’ah:10)

Mencari karunia Allah, menjadi salah satu alasan utama mengapa kita harus keluar. Karena memang karunia Allah yang banyak dan bertebaran di muka bumi itu harus dijemput, bukan ditunggu. Bahkan, kita sangat dicela jika hanya duduk di rumah dengan berpangku tangan, bertopang dagu, atau memeluk kaki dan lutut sambil menunggu keajaiban yang datang dari langit, mengantarkan makanan dan semua kebutuhan kita. Hal itu sungguh mustahil terjadi.

Jadi, kita harus keluar. Menyongsong karunia-karunia Allah yang berserakan, dengan melepas semua rasa takut kita dari gesekan-gesekan dan pertarungan di jalan. Karena, untuk menghindar dari pertarungan secara total, itu hampir sama mustahilnya dengan menunggu datangnya karunia tanpa berusaha.

Maka, yang harus kita lakukan sebenarnya bukan lari atau menghindar dari pertarungan. Akan tetapi, kita tetap harus menghadapi pertarungan itu dengan memilah dan memilih pertarungan-pertarungan yang bermartabat, serta menghindari pertarungan yang hina dan menghinakan. Di sana, tentu masih banyak pertarungan-pertarungan yang berwibawa, yang tidak merusak harga diri dan tetap mengantarkan kita kepada tujuan-tujuan mulia kita.

Dan untuk menghindari pertarungan-pertarungan yang hina dan remeh-temeh, serta memenangkan pertarungan yang bermartabat, pada ayat yang telah menyuruh kita untuk keluar di atas, juga memberikan solusi yang jelas pada kita. Yaitu dengan mengingat Allaah swt sebanyak-banyaknya. Sebuah solusi yang tidak pernah bisa diragukan kebenarannya.

Sedang, keberanian menghadapi pertarungan-pertarungan yang bermartabat bukan saja perlu, tetapi juga akan memberika cita rasa yang berbeda terhadap hasil yang kita capai. Ini seperti yang dikatakan oleh orang bijak, bahwa sesuatu yang diperoleh melalui pertarunhgan dan kerja keras, selalu terasa lebih nikmat, ketimbang sesuatu yang didapat tanpa melalui pertarungan dan kerja keras. Menghadapi pertarungan di jalan-jalan atau di mana saja yang merintangi nita dan maksud baik kita ketika sebelum  melangkah keluar rumah, itu juga merupakan bagian dari tawakal kita kepada Allah swt.Yang dimaksud dengan tawakal yang benar, tentu bukan berpasrah diri kepada Allah dengan menyerahkan sepenuhnya urusan kita kepada Allah tanpa berusaha, seperti yang dipahami oleh kaum Qadariyah.

Tetapi tawakal yang benar adalah adalah berani keluar dari rumah, lalu menghadapi pertarungan yang memang harus dihadapi karena merintangi  jalan kita, dan terus berusaha sekuat tenaga tanpa putus asa, serta tidak lupa berdoa dan berpasrah kepada Allah atas apa yang telah kita upayakan. Itulah tawakal yang diinginkan oleh Rasulullah saw. Di luar rumah ada banyak karunia, tapi juga tempat ujian bagi kepribadian kita.@

Source : Tarbawi-Edisi 149 /15 April 2007

Iklan

2 pemikiran pada “Jangan Pernah Takut Keluar

  1. Ping balik: Jangan Pernah Takut Keluar | THE VIRTUAL OFFICE

Komentar ditutup.